Dalam sebuah hunian, atap memegang peran penting, bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga sebagai penunjang estetika. Salah satu pilihan atap yang cukup unik dan bernilai seni tinggi adalah atap sirap.
Apa Itu Atap Sirap?

Atap sirap merupakan jenis atap tradisional yang terbuat dari kayu, terutama kayu ulin. Material ini sudah lama digunakan pada bangunan-bangunan bersejarah seperti keraton, museum, balai konservasi, hingga tempat ibadah.
Kayu ulin dipilih karena terkenal tahan terhadap cuaca ekstrem, baik panas, dingin, maupun air laut. Bahkan, kayu ini juga kerap dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi berat, seperti kapal, tiang listrik, bantalan rel kereta, hingga jembatan.
Bentuk atap sirap biasanya berupa kepingan kayu tipis yang disusun bertumpuk. Bentuk kepingan ini beragam, ada yang berbentuk persegi panjang, ada juga yang memiliki sisi runcing atau sedikit melengkung.
Kelebihan Atap Sirap Kayu
Tidak heran jika atap sirap masih digemari hingga kini. Selain fungsional, ia juga memiliki nilai estetika tinggi. Berikut beberapa keunggulannya:
1. Ringan dan Mudah Dipasang
Bobot kayu sirap relatif ringan dibandingkan material lain seperti tanah liat, keramik, atau alderon. Hal ini membuat pemasangannya lebih mudah dan cepat, bahkan dapat menekan biaya instalasi.
2. Memberikan Suasana Sejuk
Kayu memiliki sifat alami dalam menyerap panas. Dengan menggunakan atap sirap, suhu dalam rumah terasa lebih sejuk dan nyaman, sekaligus membantu menghemat energi listrik dari pendingin ruangan.
3. Awet dan Tahan Lama
Dikenal sebagai material premium, atap sirap dari kayu keras seperti ulin mampu bertahan hingga puluhan tahun. Ketahanannya terhadap cuaca ekstrem membuatnya menjadi investasi jangka panjang bagi sebuah hunian.
4. Estetika yang Unik
Selain fungsional, atap sirap juga menawarkan keindahan visual. Tekstur kayu yang alami, ditambah pilihan bentuk yang bervariasi—mulai dari persegi panjang hingga kerucut—memberikan kesan artistik dan berbeda dari atap pada umumnya.
Kekurangan Atap Sirap
Meskipun punya banyak kelebihan, atap sirap juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menggunakannya.
Harga Relatif Mahal
Material kayu keras seperti ulin yang digunakan untuk atap sirap memang tidak murah. Harganya lebih tinggi dibanding jenis atap lain seperti genteng beton atau keramik. Namun, kualitas dan ketahanannya yang bisa bertahan puluhan tahun tetap membuatnya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Proses Instalasi Cukup Rumit
Pemasangan atap sirap tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan tenaga ahli karena bentuk dan susunannya harus presisi agar hasilnya rapi, kokoh, dan tahan lama. Proses ini tentu memakan waktu lebih lama dibandingkan pemasangan atap konvensional.
Material Sulit Didapatkan
Karena berbahan dasar kayu tertentu, atap sirap lebih sulit ditemukan di pasaran. Ditambah lagi, sebagian orang lebih memilih material yang lebih praktis dan murah, sehingga ketersediaannya semakin terbatas.
baca juga : Harga Plafon Kayu
Cara Memasang Atap Sirap
Agar hasil pemasangan kokoh dan tahan lama, ada teknik khusus dalam penyusunan atap sirap. Berikut langkah-langkah dasarnya:
Potong ujung sirap agar rapi sebelum dipasang.
Susun bilah kayu secara berlapis dari bawah ke atas.
Rekatkan setiap sirap dengan paku agar lebih kuat. Sebaiknya gunakan paku tembak agar proses lebih cepat.
Pasang sirap 3–4 lapis, dimulai dari lapisan dasar (sirap utama, triplek, alumunium foil), lalu dilanjutkan hingga lapisan keempat.
Estimasi Harga Atap Sirap
Atap sirap umumnya dijual dalam bentuk ikatan. Satu ikat biasanya berisi 80 lembar sirap. Berikut perkiraan harga di pasaran:
Per lembar: Rp3.000 – Rp5.000
1 ikat (80 lembar): Rp165.000
Lebih dari 100 ikat: Rp160.000 per ikat
Lebih dari 400 ikat: Rp155.000 per ikat
Lebih dari 600 ikat: Rp150.000 per ikat
Lebih dari 800 ikat: Rp145.000 per ikat
Selain itu, harga juga bisa dihitung berdasarkan luas area bangunan:
Sistem 4 lapis: Rp150.000 per m²
Sistem 3 lapis: Rp120.000 per m²
Baca juga : Harga Lis Plafon
Jenis Atap Sirap Berdasarkan Material Kayu
Atap sirap dikenal karena tampilannya yang elegan sekaligus ketahanannya terhadap cuaca ekstrem. Bahan utama pembuatannya berasal dari kayu keras tertentu yang sudah terbukti awet. Berikut beberapa jenis kayu yang biasa digunakan:
Kayu Ulin
Kayu ulin merupakan material paling populer untuk pembuatan atap sirap. Kayu ini banyak ditemukan di Kalimantan dan sering dijuluki sebagai kayu besi karena kekuatannya yang luar biasa. Tahan terhadap perubahan cuaca, air laut, hingga rayap, kayu ulin juga digunakan dalam konstruksi berat seperti tiang listrik, bantalan rel kereta api, maupun jembatan.
Kayu Cedar
Selain ulin, kayu cedar juga menjadi pilihan favorit, terutama jenis yellow cedar dan western red cedar. Di negara-negara barat, cedar sering dimanfaatkan sebagai material atap rumah tradisional. Daya tahannya hampir sebanding dengan ulin, sehingga bisa menjadi alternatif kuat untuk menghasilkan atap sirap dengan nuansa klasik dan hangat.
Kayu Bangkirai
Jenis kayu bangkirai, atau yang juga dikenal dengan sebutan kayu anggelam/benuas, banyak ditemukan di Kalimantan. Karakternya keras, padat, serta mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem. Kayu ini tidak hanya cocok untuk atap sirap, tetapi juga sering digunakan untuk decking dan konstruksi luar ruangan.
Kayu Merbau
Kayu merbau adalah alternatif lain untuk bahan sirap. Kayu ini memiliki kekuatan yang hampir sebanding dengan ulin maupun bangkirai. Warnanya khas coklat kemerahan, sehingga memberi tampilan mewah ketika dijadikan atap. Namun, ketersediaannya kini mulai terbatas karena adanya regulasi ketat dalam perdagangan kayu merbau.
jangan lupa untuk terus ikuti artikel – artikel lainnya yang ada di lantaikayu.biz
